14 Jul 2010

KOTA DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PERTUMBUHAN
KOTA DI INDONESIA
 
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kota-kota di Indonesia

Tumbuhnya suatu tempat menjadi perkotaan telah menciptakan  daerah permukiman yang demikian luas dan menyebabkan berkurangnya lahan pertanian. Kota-kota terus memperluas batasnya dan merambah ruang-ruang terbuka sebagai upaya untuk mendapatkan ruang untuk hidup. Daerah pinggiran kota secara terus menerus bertambah, dan hasil pencatatan menggambarkan perubahan secara besar-besaran dan pertumbuhan yang menakjubkan (John C. Bollens & Henry J. Schmadt).[1]

Asal Mula Pembentukan Kota
Golany 1995 mengungkapkan bahwa sebelum terbentuknya sebuah kota pedalaman, tahapan  yang terbentuk adalah wilayah pusat-pusat pertumbuhan, yang merupakan lokasi permanen yang kemungkinan berkembang dari lahan aktifitas suatu wilayah seperti halnya dari keberadaan sebuah pedesaan atau lokasi baru. Namun dorongan kebutuhan untuk pengembangan lokasi pusat kegiatan ini adalah kebutuhan ekonomi masyarakat yang ditunjang oleh kemudahan transportasi untuk dicapai, nyaman untuk orang-orang saling berkomunikasi dan secara geografis berada dalam posisi yang strategis. Sehingga keunggulan ini dapat mendorong kegiatan pemasaran, industri, administrasi, Jasa, budaya, kesenian, pertahanan.[2] Golany 1995 juga menyebutkan bahwa “permukiman kemudian berkembang menjadi sebuah kota karena kebutuhan manusia semakin berkembang, dan dalam upaya memenuhi kebutuhan sosialnya ini maka manusia mengorganisasikan dirinya dengan alam dan manusia lainnya sehingga tercapai sistem keteraturan yang dapat memenuhi tuntutan kehidupannya”.

Sementara menurut Mumford 1961, Sebelum kota menjadi tempat bermukim yang tetap, tempat ini mulanya menjadi tempat pertemuan manusia yang akan selalu kembali lagi secara periodik.  Tentu hal ini disebabkan karena keberadaan magnet utama dalam sebuah kota yaitu tempat penyimpanan makanan. Selain sebagai tempat penyimpanan, Kota juga merupakan tempat bertemu orang-orang untuk saling berkomunikasi dan meningkatkan semangat. Berbagai keunggulan yang dimiliki kota akhirnya mendukung pembentukan kota sebagai pusat perdagangan yang merupakan peran yang paling penting dari sebuah kota. Masih menurut sumber yang sama yang menyatakan bahwa tumbuhnya kota juga dipengaruhi oleh manusia dan juga gaya-gaya yang ada di dalam bumi, atau dapat dikatakan bahwa kita membutuhkan citra (’image’) yang dapat menjelaskan mengenai kehidupan unsur-unsur alamiah yang berinteraksi dengan manusia sehingga membuat  sistem kerja dominan dalam kehidupan yang sesuai dengan karakter fisik alamiah kota. [3]

Pembentukan & Pertumbuhan Kota di Indonesia
Menurut Werner 1987, ”Kota-kota besar dan kecil di kepulauan di India, termasuk yang ada di Indonesia memiliki akar sejarah tersendiri. Tempat-tempat ini secara umum dibagi dalam empat strata utama dalam formasi perkotaan, yakni pendirian kota-kota baru, masyarakat agrikultural – yang kemudian berkembang menjadi pusat dominasi asli yang baru,  pusat-pusat perdagangan dan pusat-pusat administratif. Kedua strata yang terakhir membentuk tempat yang dahulunya pedesaan”. Masih menurut Werner (1987), prasyarat paling penting untuk formasi awal pembentukan kota sudah ada di nusantara sebelum periode Hindu, hal ini dapat diindikasikan dengan adanya institusionalisasi pemerintahan yang diatur oleh seorang penguasa. Pada saat itu ada dua jenis tipe masyarakat perkotaan yang sedang berkembang yakni, masyarakat yang memiliki dominasi pekerjaan berdagang di pelabuhan dan pusat dominasi kegiatan pada kekuasaan lokal (pedalaman).

Pada periode pengaruh kerajaan Hindu, Islam dan periode awal kekuasaan Eropa (1400-1700M), perdagangan merupakan faktor utama pada pembentukkan masyarakat dengan karakteristik perkotaan, meski tidak secara langsung namun perdagangan mempercepat proses feodalisasi dalam sebuah komunitas asli. Sementara pada masa Pemerintah Kolonial (1700-1900) pertumbuhan perkotaan lebih efektif dirangsang dengan menggunakan faktor politis/administrasi ketimbang dengan faktor kegiatan perdagangan. Masih menurut sumber yang sama menyebutkan bahwa kota di Indonesia memiliki tiga karakter yaitu, permukiman nelayan, permukiman industri manufaktur dan pertambangan dan permukiman pariwisata.[4]

Jika kita telusuri sebelum kedatangan Portugis dan Belanda, di Indonesia hampir tidak kita dapati satu kota atau bekas kota yang berarti. Namun, yang ada adalah kota pantai atau bandar sebagai pusat lalu lintas perdagangan terbatas, seperti Palembang (pada masa Sriwijaya), Barus di pantai Barat Sumatera, Tanjung Perak di Surabaya. Sementara itu, di pusat-pusat kerjaan Nusantara juga masih dapat kita jumpai bekas kota yang terbentuk dengan kegiatan sebagai pusat pemerintahan, seperti Yogyakarta, Solo dan kota kecil lainnya di Bali. [5]

Menurut Marbun 1994, pertumbuhan kota di Indonesia melalui sejarah yang cukup panjang. Kota-kota di Indonesia saat ini bukan merupakan bentukan atau warisan dari zaman keemasan kerajaan Nusantara terdahulu, tetapi merupakan bentuk dan kreasi sejarah dan faktor kebetulan yang kemudian diteruskan dan dibina penjajah Belanda selama 350 tahun. Pada mulanya kota-kota di Indonesia terbentuk akibat faktor-faktor, yaitu sebagai pusat pemerintahan kolonial, sebagai pusat niaga dan sebagai pelabuhan serta terminal untuk memasok berbagai bahan kepentingan pemerintah kolonial.[6] Bertolak dari pembentukan kota yang merupakan hasil dari aktivitas dominan sebuah kota, maka sesuai tuntutan kebutuhan warganya kota terus tumbuh menyesuaikan dengan perkembangan dunia.

Bentukan, kreasi dan faktor kebetulan yang mendorong pertumbuhan bagi sebuah kota sehingga akhirnya dapat membentuk ‘citra’ suatu kota (seperti dituturkan Marbun 1994) tentunya ditunjang oleh keutamaan fisik alamiah dari sebuah kota. Seperti halnya, posisi atau keutamaan fisik alam Kota Cilegon yang berada di pesisir pantai dan berbatasan (terpisah oleh Lautan) dengan lempengan Sumatera sehingga dapat memposisikan Kota Cilegon sebagai Kota Pelabuhan (Merak). Jakarta sebagai kota perdagangan karena kondisi fisik alam yang merupakan wilayah dataran dengan posisi strategis dengan jalur darat yang secara langsung berbatasan dengan wilayah Tangerang, Bekasi dan Depok yang merupakan supplier sekaligus konsumen dari berbagai barang yang diperjualbelikan di Jakarta, selain jalur darat, jalur laut dan udara juga memberikan kemudahan bagi kegiatan perdagangan sehingga wilayah yang dijangkau kota ini dalam kegiatan perdagangan lebih luas, kondisi ragam jenis barang dan ditunjang aksesibilitas yang baik jelas menarik konsumen dari berbagai wilayah untuk ke Jakarta melakukan transaksi perdagangan. Dari sini, Saya berkesimpulan bahwa aktivitas dominan yang dapat membentuk kota dapat diasumsikan sebagai akibat dari suatu sebab yaitu kondisi/keunggulan fisik alamiah kota, bukan karena kebetulan semata. Hal ini juga diperkuat oleh Branch (1996) yang menyatakan bahwa bentuk kota secara keseluruhan mencerminkan posisinya secara geografis dan karakteristik tempatnya.[7]

Mendukung pernyataan di atas, menurut Werner 1987 dalam perkembangan kota-kota di Indonesia mengungkapkan beberapa identitas kota dengan berbagai ciri fisik yaitu, bagi sebuah desa nelayan adalah letak permukiman yang berada di tepi pantai atau muara sungai, atau juga tepi danau yang tidak curam, bukan hutan bakau, dan tidak berlumpur, selain itu juga memiliki akses ke laut lepas. Sementara itu, Kota industri manufaktur dan kota tambang umumnya berkembang karena dorongan dari perkembangan infrastruktur, motorisasi, dan perkembangan jasa-jasa pelayanan, selain itu umumnya tipe kota ini di Indonesia terletak diluar/bersebelahan dengan kota pemerintahan. Sedangkan kota pariwisata, secara fisik seperti karakter alamnya memiliki keunikan atau keistimewaan, seperti sumber air panas di wilayah tropik, lokasi di wilayah pegunungan atau perbukitan seperti Bandung, secara non fisik seperti keunikan etnik dan budaya.[8]

Kota Batavia misalnya telah dibangun dan dibesarkan oleh perdagangan yang sudah berkembang sejak kekuasaan Tarumanegara (abad ke-5 dan ke-6M) sampai dengan 20M  dengan titik utamanya Pelabuhan Sunda Kelapa dan berbagai keterlibatan pedagang yang berasal dari Eropa, Gujarat maupun Cina. Demikian kuatnya dominasi kegiatan ini sampai Pemerintah Hindia Belanda mellihat dominasi kegiatan ekonomi pesisir ini sulit ditembus karena kebanyakan penguasa kota-kota pesisir telah menjalin kerjasama dengan Inggris  yang merupakan pesaing Belanda dalam kolonialisme di nusantara pada saat itu. Kemudian pertumbuhan fisik kota Batavia diteruskan ke arah Selatan dengan memberikan tembok pertahanan yang memanjang dan menghadap ke Timur, Selain itu Batavia juga dilengkapi dengan dinding kota dengan 15 sudut tembak meriam, semua peralatan ini dibangun untuk pertahanan sekaligus mengantisipasi serangan Mataram saat itu.[9] Untuk mendeteksi sejarah dan dominasi aktivitas yang membentuk kota yang pada pemerintahan yang berwenang dapat kita perhatikan dari karakteristik lingkungan binaan yang dibangun oleh pemerintah kota saat itu. Trend pertumbuhannya pun akhirnya disesuaikan dengan kebutuhan warga yang tinggal di dalamnya.
Stadia Pertumbuhan Kota Jakarta


[1] John C. Bollens & Henry J. Schmadt, The Metropolis, 1965 dalam  Melville C. Branch, Perencanaan Kota Komprehensif, Gadjah Mada University Press, 1996
[2] Gideon S Golany, Ethics and Urban Design:Culture, Form and Environment. John Wiley & Sons, Inc. New York. 1995
[3] Leuwis Mumford, The City in History, New York, 1961
[4] Werner Rutz, Urbanization of the Earth 4, Cities and Town in Indonesia, Stuttgart, Berlin, 1987.
[5] Marbun, Kota Indonesia Masa Depan, Masalah dan Prospek, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1994
[6] Marbun, Kota Indonesia Masa Depan, Masalah dan Prospek, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1994
[7] Melville C. Branch, Perencanaan Kota Komprehensif, Gadjah Mada University Press, 1996
[8] Werner Rutz, Urbanization of the Earth 4, Cities and Towns in Indonesia, Stuttgart, Berlin, 1987
[9] Bagus Wiryomartono, Seni Bangunan dan Seni Bina Kota di Indonesia, 1994

Pada awal pertumbuhannya, permukiman urban di Indonesia masih diwarnai oleh tradisi pedesaan yang dipengaruhi oleh struktur agraris dengan kehidupan sosial yang bertumpu pada ekonomi gotong royong. Namun seiring berjalan waktu, sebagian kelompok masyarakat merasa perlu melengkapi dirinya dengan budaya tulis-menulis, misalnya Sansekerta, Jawa Kuno, Arab Melayu dst, sehingga mereka menghasilkan peradaban kota, sedangkan yang tidak akan tetap berpegang pada peradaban desa dan kelompok ini jelas akan tertinggal. Lebih lanjut, pertumbuhan kota menghasilkan sistem pelapisan sosial dan birokrasi yang ternyata berhasil mendorong masyarakat agar mampu menghasilkan surplus pertanian dan industri domestik yang hasilnya akan mendukung kebudayaan kota.[1]

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kota di Indonesia
Dari paparan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa, pertumbuhan kota-kota di Indonesia awalnya didorong oleh :
  1. aktivitas kota (baik dominasi kegiatan pemerintahan/politis, perdagangan, pertahanan, pertambangan, manufaktur, dsb) yang pada akhirnya membentuk citra (image) kota. Citra kota tersebut dapat menentukan struktur simbolis yang akan diperhatikan, diingat dan dianggap penting oleh oleh kelompok-kelompok pemukim di kota itu atau oleh para pengunjung.[2] kemudian;
  2. aktivitas kota tentunya sangat ditunjang oleh potensi fisik wilayah;
  3. warga kota (baik penduduk asli maupun pendatang) yang melakukan aktivitas pemenuhan kebutuhan hidupnya di kota juga merupakan tulang punggung penggerak dinamika kehidupan kota;
  4. Berbagai faktor-faktor di atas akhirnya perlu ditunjang dengan faktor kebijakan politis  pemerintahan yang berwenang yang juga mendorong tumbuh dan eksisnya suatu kota.


[1] Bagus Wiryomartono, Seni Bangunan dan Seni Bina Kota di Indonesia, 1994
[2] Hans Dieter Evers & Rudiger Korff, Urbanismo di Asia Tenggara, Yayasan Obor Indonesia, 2002


PEMBAHASAN 
Sejarah Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Pengetahuan awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui berbagai prasasti (Prasasti Tugu) yang ditemukan di kawasan bandar tersebut. Keterangan mengenai kota Jakarta sampai dengan awal kedatangan para penjelajah Eropa dapat dikatakan sangat sedikit.

Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang. Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa perta yang datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai Jayakarta.

Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.

Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Bahasa Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB ). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.

JAKARTA KOTA PEMERINTAHAN
Berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk, Jakarta berkedudukan sebagai propinsi, setingkat dengan propinsi lain yang ada di Indonesia. Sebagai sebuah propinsi, Jakarta dikepalai oleh seorang Gubernur yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia melalui Menteri Dalam Negeri. Dengan memiliki posisi ganda sebagai kota propinsi dan ibukota negara, Jakarta memperoleh status sebagai Daerah Khusus Ibukota (DKI). Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) menetapkan kebijakan - yang merupakan petunjuk bagi badan-badan pemerintah daerah - serta membantu Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta dalam menetapkan kebijakan-kebijakan mengenai perencanaan strategis, pembangunan, dan keuangan untuk wilayah DKI Jakarta. DKI Jakarta terdiri dari lima Kotamadya dan satu Kabupaten Administratif, yang berkedudukan sebagai daerah swatantra tingkat dua, di bawah pengawasan kantor Gubernur. Kelima kotamadya tersebut adalah Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Kabupaten Kepulauan Seribu. Tiap kotamadya dikepalai oleh seorang Walikota yang membantu mempersiapkan perencanaan wilayahnya, sedangkan Kepulauan Seribu dikepalai oleh seorang Bupati bertanggung jawab dalam bidang keuangan. Masing-masing wilayah kota membawahi sejumlah kecamatan dan kelurahan. Di seluruh DKI Jakarta terdapat 43 kecamatan dan 265 kelurahan. Selain itu terdapat juga organisasi-organisasi kemasyarakatan yakni Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), yang berada di bawah yurisdiksi kecamatan.

JAKARTA KOTA NIAGA & PERDAGANGAN
Tak diragukan lagi, Jakarta merupakan pusat ekonomi utama Indonesia. Beragam jenis kegiatan perdagangan dan industri penting berhasil menarik penanaman modal - baik dalam negeri maupun internasional - menyemarakan dunia perdagangan. Beberapa tahun terakhir ini Pemerintah Pusat telah menetapkan rangkaian kebijakan yang dimaksudkan untuk lebih memacu pertumbuhan ekonomi Jakarta, termasuk penyempurnaan dalam runtunan ekspor, tatacara penanaman modal, dan penyederhanaan peraturan di bidang perbankan. Sektor swasta memperoleh dukungan penuh pemerintah termasuk dukungan keuangan untuk berbagai kegiatan perdagangan sehingga kini dapat berperan penting dalam perdagangan nasional. Aktivitas Jakarta sebagai Kota Perdagangan ini tentunya ditunjang oleh posisi Jakarta yang berada di posisi silang dengan wilayah Barat dan Timur Indonesia, juga didukung oleh keberadaan beberapa infratruktur kota, seperti Bandar Udara Soekarno-Hatta di Cengkareng melayani lalu-lintas udara dalam negeri dan internasional. Angkutan laut beroperasi melalui pelabuhan-pelabuhan Tanjung Priok, Sunda Kelapa dan Kali Baru. Tanjung Priok merupakan pelabuhan utama untuk perdagangan internasional, kini sedang dalam proses perluasan.


Analisis
Jakarta tumbuh dari kegiatan awal pembentukannya yaitu sebagai kota bandar (tempat transit) bagi Kerajaan Hindu bernama Sunda, kemudian pertumbuhannya berlanjut sehingga Jakarta juga dikenal dengan kota pemerintahan dan kota perdagangan.

Tumbuhnya Jakarta sebagai kota bandar/pelabuhan pada 500 tahun silam yang dikenal dengan nama Kota Kalapa adalah karena letak geografisnya yang berada di Muara Sungai Ciliwung. Faktor fisik ini mendukung pembentukan kota sebagai pelabuhan, peran ini juga didukung oleh aktivitas warga kota di seputar kegiatan pelabuhan, hal ini mengawali pertumbuhan Jakarta. Citra Kota Kalapa saat itu sebagai kota pelabuhan terjadi seperti halnya yang diungkap oleh Mumford (1961) bahwa citra kota dapat dijelaskan dari keberadaan unsur-unsur alamiah yang berinteraksi dengan manusia sehingga membuat  sistem kerja dominan dalam kehidupan yang sesuai dengan karakter fisik alamiah kota.

Posisi silang yang strategis di antara kepulauan nusantara menjadikan lokasi ini mudah dijangkau dari dari jalur laut, hal ini ditandai dengan berlabuhnya kapal dari berbagai bangsa seperti China, Gujarat, India, Belanda, Portugis, dsb. Para pendatang ini selain berlabuh juga melakukan transaksi perdagangan. Aktivitas berdagang ini awalnya digerakkan oleh pendatang namun seiring berjalan waktu, warga kota juga tertarik untuk meraih keuntungan dalam kegiatan ini, maka saat itu kegiatan berdagang mendominasi kegiatan di pelabuhan, kegiatan berdagang ini tentunya sangat berperan besar dalam menciptakan Jakarta sebagai kota perdagangan. Timbulnya dorongan untuk berdagang di Sunda Kelapa saat itu, baik bagi para pendatang maupun warga adalah karena desakan kebutuhan ekonomi, namun memang hal ini berjalan semakin baik dengan ditunjang oleh kemudahan transportasi sehingga mudah untuk dicapai, nyaman untuk orang-orang saling berkomunikasi dan tentunya secara geografis berada dalam posisi yang strategis, Golany (1995) juga mengilustrasikan hal yang demikian pada proses awal pembentukan kota.

Akses transportasi laut dengan dukungan pelabuhan merupakan sarana yang paling penting dalam dunia perdagangan di Jakarta atau Batavia tempo dulu. Sementara saat ini, akses transportasi darat, laut dan udara yang tersedia memperluas wilayah jangkauan perdagangan Jakarta yang memang berada diantara posisi silang kepulauan nusantara. Keunggulan geografis ini selain memantapkan posisi Jakarta sebagai Kota Pelabuhan, juga mendorong pertumbuhan Jakarta sebagai kota dagang. Dukungan politis Pemerintah saat ini dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang bersifat menggiatkan kegiatan perdagangan, seperti kebijakan dalam tata laksana ekspor impor, tatacara penanaman modal, dan penyederhanaan peraturan di bidang perbankan juga sangat mendorong tumbuhnya kota Jakarta sebagai kota dagang bahkan meningkat menjadi kota bisnis. 
Awal tumbuhnya, Jakarta dikuasai oleh kerajaan Kalapa, kemudian beralih pada penguasaan Pangeran Jayakarta, invasi Belanda yang dipimpin JP. Coen menyebabkan otoritas Jakarta berada dibawah pemerintahan kolonial Belanda, setelah kemerdekaan tahun 1945 akhirnya Jakarta tumbuh di bawah Pemerintah Indonesia. Faktor yang menjadi penentu bagi berbagai pemerintahan tersebut memilih Jakarta sebagai pusat pemerintahan sangat beragam, bagi kerajaan Kalapa posisi Jakarta yang strategis di Muara Sungai Ciliwung menjadi alasan lokasi ini jadi pusat pemerintahan. Bagi pangeran Jakayakarta letak Jakarta di pesisir merupakan lokasi strategis untuk jalur perdagangan, didukung oleh kedatangan warga dari etnis China, Arab, dsb maka kegiatan perdagangan di sini semakin ramai. Sama halnya dengan Pangeran Jayakarta, Pemerintah kolonial Belanda memposisikan pemerintahannya di Jakarta adalah untuk menguasai kegiatan perdagangan di pelabuhan Jayakarta/Sunda Kelapa. 
Sementara itu faktor fisik alam Jakarta yang berrawa-rawa mirip dengan negeri Pemerintah kolonial Belanda yang menyebabkan Pemerintah Kolonial Belanda menetapkan  Jakarta sebagai pusat pemerintahannya, pemilihan karena faktor fisik ini kemungkinan dilakukan agar proses pemeliharaan dan treatment yang perlu dilakukan untuk kondisi alam ini telah dipahami oleh mereka, sehingga dalam kegiatannya sebagai kota pusat pemerintahan pemerintah kolonial dapat mengelola kota lebih baik secara fisik (seperti : membuat kanal untuk pengendali banjir, dsb), penetapan kebijakan politis ini juga dilakukan karena luas wilayah Jakarta yang memenuhi syarat sebagai pusat pemerintahan suatu negara (ibukota propinsi).

Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mendorong pertumbuhan Kota Jakarta sebagai kota pelabuhan, kota dagang dan kota pusat pemerintahan adalah
  1. Fisik wilayah, di muara sungai Ciliwung dengan posisi silang antara kepulauan nusantara sehingga faktor ini mendorong Jakarta tumbuh menjadi Kota Pelabuhan, dan faktor ini  juga yang mendukung aktivitas berdagang warga. Selain itu, faktor ini juga yang menjadikan salah satu alasan pemerintah kolonial menetapkan Jakarta sebagai pusat pemerintahan. Faktor ini menurut saya memberikan penentu awal bagi pembentukan suatu kota ;
  2. Aktivitas, dominasi kegiatan yang dilakukan oleh pendatang dan warga kota dalam suatu jenis kegiatan, seperti kegiatan berlabuh yang dominan dalam awal pertumbuhan Jakarta dan kemudian berkembang menjadi kegiatan berdagang yang juga dominan dilakukan di Jakarta bahkan aktivitas ini yang membuat beberapa kekuasaan pemerintahan  di awal tumbuhnya memperebutkan Jakarta;
  3. Warga kota, sebagai motor penggerak dalam berbagai kegiatan kota seperti warga kota Kalapa (kerajaan Hindu) yang memotori kegiatan pelabuhan di Jakarta, para pendatang dan warga kota yang menggerakan kegiatan perdagangan di Sunda Kelapa;
  4. Kebijakan politis, kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah yang berkuasa untuk memposisikan Jakarta sebagai Ibu Kota Negara/Kota Pusat Pemerintahan menjadikan Jakarta tumbuh sebagai kota pusat administrasi. Faktor ini juga yang mendukung berkembangnya kegiatan perdagangan di Jakarta sampai saat ini.

DAFTAR PUSTAKA :
1. Bagus Wiryomartono, Seni Bangunan dan Seni Bina Kota di Indonesia, 1994
2. Gideon S Golany, Ethics and Urban Design:Culture, Form and Environment. John Wiley & Sons, Inc.  
    New York. 1995
3. Hans Dieter Evers & Rudiger Korff, Urbanisme di Asia Tenggara, Yayasan Obor Indonesia, 2002
4. Leuwis Mumford, The City in History, New York, 1961
5. Marbun, Kota Indonesia Masa Depan, Masalah dan Prospek, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1994
6. Melville C. Branch, Perencanaan Kota Komprehensif, Gadjah Mada University Press, 1996
7. Werner Rutz, Urbanization of the Earth 4, Cities and Towns in Indonesia, Stuttgart, Berlin, 1987

Tidak ada komentar:
Write comments